Bagi Anda yang baru terjun ke dunia keuangan, istilah “Return” pasti menjadi kata yang paling sering didengar. Seringkali orang bertanya, “Berapa return-nya?” atau “Apakah return-nya pasti?”.
Secara sederhana, return adalah alasan utama mengapa seseorang berinvestasi. Namun, memahami return tidak hanya soal angka keuntungan. Mari kita bedah lebih dalam agar Anda tidak salah langkah.
Apa Itu Return?
Dalam dunia investasi, Return adalah keuntungan atau kompensasi yang diperoleh atas kegiatan investasi yang Anda lakukan. Ini adalah selisih nilai yang menunjukkan apakah modal yang Anda tanamkan tumbuh atau justru menyusut.
Jika Anda menginvestasikan uang sebesar Rp1.000.000 dan setelah satu tahun uang tersebut menjadi Rp1.100.000, maka Rp100.000 (atau 10%) itulah yang disebut sebagai return.
Komponen Utama Return
Return biasanya terdiri dari dua komponen utama:
- Yield (Pendapatan Berkala):
Ini adalah keuntungan yang Anda terima secara rutin selama memiliki aset tersebut. Contohnya adalah Dividen dari saham, Kupon dari obligasi, atau Uang Sewa dari properti. - Capital Gain (Kenaikan Harga):
Ini adalah keuntungan yang didapat saat harga jual aset lebih tinggi dari harga belinya. Misalnya, Anda beli emas saat murah dan menjualnya saat harganya naik.
Jenis-Jenis Return yang Wajib Diketahui
Memahami jenis return akan membantu Anda memiliki ekspektasi yang realistis:
1. Realized Return (Return Realisasi)
Keuntungan yang sudah benar-benar ada di tangan Anda karena asetnya sudah terjual. Selama aset belum dijual, keuntungan tersebut masih berupa “angka di atas kertas” (unrealized return).
2. Expected Return (Return Harapan)
Ini adalah angka keuntungan yang Anda harapkan akan didapat di masa depan. Angka ini biasanya didasarkan pada performa masa lalu atau analisis proyeksi. Ingat, expected return bukanlah janji pasti!
3. Real Return (Return Riil)
Ini adalah keuntungan bersih setelah dikurangi dengan Inflasi. Jika investasi Anda tumbuh 5% tapi inflasi di tahun tersebut mencapai 4%, maka real return Anda sebenarnya hanya 1%.
Hubungan Return dan Risiko (Risk-Return Trade-off)
Ada hukum besi dalam investasi: High Risk, High Return.
Artinya, investasi yang menawarkan potensi keuntungan besar (seperti saham atau kripto) selalu dibarengi dengan risiko kerugian yang besar pula. Sebaliknya, investasi dengan risiko rendah (seperti deposito atau obligasi negara) umumnya menawarkan return yang lebih stabil namun lebih kecil.
Return adalah indikator keberhasilan investasi Anda, namun jangan pernah hanya terpaku pada angka tinggi tanpa melihat risikonya. Investor yang cerdas tidak hanya mengejar return yang besar, tetapi return yang konsisten dan sesuai dengan tujuan keuangannya.
Hal yang perlu anda ingat jangan letakkan semua uang Anda dalam satu jenis investasi saja (diversifikasi) agar potensi return tetap terjaga meski salah satu instrumen sedang turun.
